Ada Barang Baru, Tapi Tidak (Belum) Ada Barangnya

Sambil menunggu hasil pemeriksaan laboratorium di rumah sakit, saya memutuskan untuk nongkrong dulu di kafe kecil yang ada di rumah sakit itu. Di meja ada menu gantung yang entah mengapa ditulis dalam Bahasa Inggris, yang mempromosikan produk baru. Akan tetapi di bagian bawahnya tertera tulisan “Not Available”.

Seberapa sering kita (saya dan anda) hanya bisa tersenyum kecil pada saat memesan makanan di rumah makan tetapi setelah menunggu agak lama, pramusaji datang dan mengatakan makanan yang dipesan sudah habis alias sudah tidak ada lagi.

Ada juga barang jualan baru yang memang tidak tersedia saat itu juga, konsumen harus menunggu hingga barangnya tersedia, tetapi wajib bayar uang muka pembelian. Inden istilahnya. Ini biasanya kalau beli rumah baru atau beli kendaraan bermotor baru termasuk kalau beli pesawat jet pribadi.

Ada dua perkara di sini. Barang baru tapi barangnya tidak ada, dengan ada barang baru tapi barangnya belum ada. Untuk yang pertama, ya sudah kalau tidak ada, tetapi mengapa dipromosikan? Untuk yang kedua, barangnya nanti akan ada. Ada harapan yang di berikan di sini.

Tidak dan belum ini sangat relevan dengan kondisi kesehatan saya. Ada dokter yang bilang kalau penyakit saya tidak ada obatnya, sementara dokter yang lain bilang belum ada obatnya. Entah kenapa saya lebih percaya pada dokter yang bilang belum. Mungkin saya termasuk orang yang optimis.

Komentar

2 tanggapan atas “Ada Barang Baru, Tapi Tidak (Belum) Ada Barangnya”

  1. Blogombal Avatar

    Soal kkesehatan, saya dukung Pak Ndobos. Optimistis.

    Soal barang dagangan, ibu teman saya dulu punya warung. Kalo barang yang dicari pembeli ternyata tak tersedia, anak-anak Bu Warung diajari untuk bilang habis. Kalo bilang ndak ada, kesannya ndak lengkap.

    Suka

    1. Rudy Rudyanto Avatar
      Rudy Rudyanto

      Hahaha saya ya suka gitu ke pramusaji rumah makan kalau mereka bilang makanannya habis. Habis atau tidak ada?

      Suka

Tinggalkan komentar