
Generasi saat ini mungkin tidak akan tahu foto di atas itu orang sedang berjualan apa? Seingat saya, penjual kerupuk putih atau dikenal juga dengan nama kerupuk aci atau kerupuk kampung dengan cara dipanggul seperti di foto tersebut sudah “punah” di awal tahun 80an.

Saya punya seorang teman yang kalau makan, selain nasi harus ada kerupuk. Pada saat kami sedang ada di luar Indonesia, dia bisa blingsatan karena makanannya nirnasi dan nirkerupuk. Nasi masih bisa dicari, tapi kerupuk repot urusannya. Biasanya dia menggantinya dengan keripik kentang merk Pringles.
Kerupuk putih ini bahan dasarnya tepung tapioka yang kadang dicampur ulekan bawang putih lalu diuleni dengan air. Kadang diberi rajangan daun seledri atau daun bawang. Hasilnya dicetak, dikukus lalu dijemur di bawah sinar matahari. Kerupuk mentah tersebut lantas digoreng cepat dengan minyak panas. Hasil akhirnya adalah kerupuk putih yang kita kenal.
Dahulu, kerupuk putih tersebut dijajakan dalam dua tabung besar yang terbuat dari seng dan dipanggul oleh penjual kerupuk. Wadah kerupuk yang terbuat dari seng ini mampu menjaga agar kerupuk tetap kriuk renyah pada saat dikonsumsi. Saya ingat eyang putri di Bandung dulu kadang menukar kerupuk yang sudah melempem dengan kerupuk yang masih kriuk ke penjaja kerupuk. Kerupuk melempem tadi lantas dimasukan ke dalam tabung besar tukang kerupuk. Saya tidak tahu bagaimana penjual bisa membedakan mana kerupuk melempem dan mana yang masih kriuk pada saat menjual ke konsumen selanjutnya.
Saya juga tidak tahu, mengapa penjual kerupuk keliling ini punah. Sekarang kalau mau membeli kerupuk putih bisa di warung bahan makanan atau di tukang sayur keliling. Kerupuk yang dijual di warung biasanya disimpan di wadah kotak yang terbuat dari seng atau dibungkus dalam plastik. Sangat penting untuk dipastikan kerupuk yang dijual tidak melempem, harus tetap kriuk.
Tinggalkan komentar