Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman.
Begitu penggalan lirik lagi Kolam Susu ciptaan Yok Koeswoyo yang dinyanyikan oleh Koes Plus di awal tahun 70-an yang menggambarkan betapa suburnya Indonesia.
Di bagian lain, lagu itu juga menggambarkan laut yang kaya.
Kail dan jala cukup menghidupimu
Tiada badai tiada topan kau temui
Ikan dan udang menghampiri dirimu.
Bayangkan mudahnya mencari makan dari laut.
Berkali-kali kita mendengar betapa kayanya Indonesia, tidak hanya dari hasil hutan dan laut, tetapi juga kaya akan barang tambang. Tetapi mengapa Indonesia masih juga tidak kaya-kaya secara finansial walaupun punya segalanya.
Bukan pertanyaan sulit untuk dijawab. Karena Indonesia garongnya banyak, baik yang terhormat maupun yang tercela. Jika garong terhormat masih menikmati diperlakukan sebagai orang terhormat, garong tercela habis babak belur diberi salam olah raga di jalan. Pun demikian keduanya bernasib sama, apes.
Saya percaya korupsi adalah biang utama segala kesusahan di negeri yang kaya ini. Koruptor apes yang terkena hukuman sudah menggarong entah berapa ratus bahkan mungkin ribu triliun. Yang tidak apes, walaupun ketahuan dan dihukum bisa melarikan diri dan tidak tertangkap lagi. Mau contoh, Eddy Tanzil misalnya. Apa kabarnya itu orang?
Negeri ini kaya raya, tapi yaitu, garongnya juga amat banyak.
Tinggalkan Balasan ke Blogombal Batalkan balasan