Pagi tadi, saya ada menyambangi kantor teman untuk ngobrol-ngobrol ringan saja. Di sela-sela obrolan, saya mendengar kicauan burung Cinenen jawa (Orthotomus sepium), yang menjadikan hari ini menjadi istimewa buat saya.
Apa istimewanya? Toh Cinenen jawa ini, walaupun di dunia ini hanya bisa dijumpai di Indonesia saja, tetapi ia bukan burung yang terancam punah. Umum saja (semestinya) dijumpai di sekitar rumah. Tetapi beberapa tahun belakangan burung ini, bersama-sama dengan Perenjak sayap-garis, seperti lenyap dari lingkungan sekitar saya. Lenyap burungnya, celoteh riang burung ini juga lenyap.
Dahulu saya sangat terhibur jika duduk di teras rumah ditemani celoteh riang Cinenen jawa ini, cenderung ribut malah. Hilangnya burung-burung “umum” begini sudah terjadi di kawasan urban, terutama di Jawa. Hilang ke mana dan karena apa? Ada yang bilang karena lingkungannya sudah berubah, ah tidak juga batin saya. Ada yang bilang karena makanannya (serangga) sudah berkurang, ah tidak juga batin saya. Saya cenderung untuk menjawab, burung-burung ini menghilang karena ditangkapi untuk lantas masuk kandang.
Saya tidak punya bukti solid terkait hal ini. Tetapi di pasar dan kios burung, Perenjak sayap-garis dan Cinenen jawa banyak dijual. Burung lain yang juga hilang dari lingkungan rumah saya dan kerap ditemui di pasar burung adalah Bentet kelabu (Lanius schach).
Menghilangnya burung-burung yang hidup di kawasan urban begini membuat saya prihatin. Kenapalah harus ditangkapi dan dikurung di kandang burung, padahal tanpa disekap begitu burungnya toh datang sendiri. Tidak perlu dipelihara, dimandikan, dijemur dan diberi makan pula. Tapi logika manusia memang kadang tidak logis.
Tinggalkan Balasan ke Blogombal Batalkan balasan