Marah? Berhentilah Dulu Menulis

Belakangan ini saya jarang menulis di blog ini. Salah satu penyebabnya karena saya marah, kecewa, sedih, campur aduk. Sampai-sampai perbendaharaan kata-kata makian saya sampai habis tetapi perasaan marah itu belum juga hilang. Apa pasal?

Bahwa pejabat negara ini sering kali melontarkan pernyataan yang mengundang amarah, sudah lazim terjadi. Tetapi sebelumnya saya bisa mengendalikan diri, paling penyataannya ditertawakan saja. Saya bukan orang pintar, tetapi saya tak sedungu itu jika melontarkan penyataan.

Puncaknya adalah bencana karena ulah manusia itu sendiri yang melanda Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Saya tak habis pikir dengan begitu banyaknya pernyataan nir-empati, sesat logika dan bahkan kebohongan yang jelas-jelas dipertontonkan. Hebatnya lagi, mereka seperti tak pernah belajar dari hal tersebut.

Lantas saya bagaimana menyikapinya. Membaca lebih sedikit berita awalnya bisa membantu, tetapi karena kualitas kedunguannya makin bertambah tak pelak membuat saya memaki. Tidak sehat. Sampai sekarang saya masih membatasi membaca berita terkait apa yang terjadi di Sumatera. Akan sampai kapan begini terus? Entah. Mengingat masa jabatan para petinggi negara ini paling tidak masih empat tahun lagi. Doakan saja saya kuat.

Komentar

3 tanggapan atas “Marah? Berhentilah Dulu Menulis”

  1. Blogombal Avatar

    Lebih berharga kesehatan mental kita daripada para pejabat semprul itu. Kita maki sejorok apa pun mereka sudah kebal. Mereka tak merasa bersalah apalagi malu. Kata bunuh diri tak ada dalam kamus mereka. Tapi jaga gengsi atas nama bangsa dan negara sangat tebal dalam diri mereka, demikian pula kerakusan akan uang.

    Tetapi masa lingkungan anak cucu kita biarkan hancur? Banjir besar yang tak hanya berisi air dan lumpur tetapi juga kayu tebangan adalah bukti telanjang negara tak mengurusi lingkungan.

    Suka

  2. Zam Avatar

    benar-benar lawak dan tidak ada harapan. nahasnya, ini soal bencana. sungguh di luar nurul dan tidak bisa ber-word-word..

    Suka

  3. @sandalian Avatar

    Waktu kecil kita sering mendapat narasi bahwa kejahatan akan mendapat balasannya.

    Nyatanya, sekarang semakin banyak penjahat yang jelas-jelas menunjukkan kejahatannya namun mereka tetap baik-baik saja.

    Lalu Tuhan ke mana? *eh

    Suka

Tinggalkan komentar