Naik Motor, Kendaraan Umum atau Berjalan Kaki?

Sore tadi saya sedang berhenti di pertigaan lampu merah, di sebelah mobil saya ada sepeda motor entah apa yang ditumpangi oleh tiga orang anak (paling banter masih SMP) berseragam pramuka dan tidak mengenakan helm.

Setahu saya, Gubernur Jawa Barat sudah menerbitkan Surat Edaran (SE) No. 43/PK.03.04/KESRA pada 2 Mei 2025, yang secara resmi melarang siswa SD, SMP, dan SMA membawa sepeda motor dan ke sekolah (bagi siswa SMA, larangan ini berlaku jika mereka belum memiliki SIM). Harus saya akui, jumlah pesepeda motor di bawah umur ini di Bogor dan sekitarnya terasa berkurang sejak keluarnya surat edaran itu. Tapi ya masih ada saja.

Saya ingat semasa SD dan SMP saya lebih sering berjalan kaki ke sekolah. Saat SMP sesekali pakai skateboard. Saat SMA di Bandung saya lebih sering berjalan kaki dari ujung Jalan Riau (sekarang namanya Jalan Laswi) ke Jalan Bengawan. Saat kuliah mulai beragam kendaraannya, dari mulai sepeda motor, angkutan kota, bus DAMRI dan mobil (pinjam mobilnya adik atau Ibu saya).

Kembali ke anak-anak yang naik motor bertiga tadi, kalau diberhentikan polisi (sekarang lagi musimnya razia), bagaimana urusannya itu. Tanpa SIM, tanpa helm dan mengendarai motor bertiga. Siapa yang harus dikenai hukuman? Buat saya, para orang tua yang anaknya ada di motor tersebutlah yang semestinya bertanggung jawab. Anak sekecil itu sudah diberikan izin mengemudikan sepeda motor. Semestinya mereka berjalan kaki ke sekolah. Jauh? Bisa naik kendaraan umum. Mahal ongkosnya? Lha, pakai sepeda motor apa tidak harus beli bensin dan oli?

Kenapa bertiga? Tanya Pak Polisi… soalnya kalau berempat sempit Pak, jawab salah satu anak.

Komentar

6 tanggapan atas “Naik Motor, Kendaraan Umum atau Berjalan Kaki?”

  1. warungselat Avatar

    SD, saya selalu berjalan kaki karena sekolah dekat dari rumah. SMP sampai kelas 2 naik sepeda, lalu di kelas 3 naik trail Yamaha mini 80 cc (Yamaha GT80). Mboys ya?😁

    SMA, beberapa kali ganti motor antara lain Honda bebek dan Honda CG110. Kuliah (masuk 1983) naik trail Yamaha DT100 bikinan 1976.

    Naik trail berlanjut teroooooos sampai sekarang di usia 61 tahun (sudah enam tahun pensiun). Tapi sedjak doeloe tidak pernah trail-trailan alias trabasan.😁

    Suka

    1. Rudy Rudyanto Avatar
      Rudy Rudyanto

      Waaah mbois pol. Saya sudah gak naik sepeda motor sejak akhir 80an kayaknya. Entah kenapa, saya lupa. Padahal dulu saya kalau apel pacar di Bogor, saya naik motor dari Bandung.

      Disukai oleh 1 orang

      1. Blogombal Avatar

        Beliau memang mbois pol.

        Disukai oleh 1 orang

  2. Blogombal Avatar

    Bandung – Bogor naik motor? Wah hebat.

    Kalo punya motor lagi saya harus belajar dulu soalnya sudah 18 tahun ndak punya motor karena tempat di rumah gak cukup.

    Saya sering lihat anak SMP naik motor kayak gitu, tanpa pelat nomor pula. Orangtua nggak ngajarin sih. Eh soal motor bodong, ada yang merupakan barang curian. Mereka berani beli karena selain murah cuma di pakai pinggir kota.

    Suka

    1. Rudy Rudyanto Avatar
      Rudy Rudyanto

      Sepertinya soal motor bodong ini banyak di pinggiran kota. Biasa dipakai jadi ojek pangkalan, pengangkut sayur atau pengangkut logistik warung.

      Suka

    2. warungselat Avatar

      Istri saya mungkin sudah lupa cara naik/mengemudikan motor karena lebih dari 10 tahun tidak nyetir motor. Tiap hari sih naik motor tapi digoncengke😁 Nyopir mobil dia ya sudah nggak bisa karena bertahun-tahun tidak nyetir meski kami punya Jazz yang sudah berusia 12 tahun

      Suka

Tinggalkan Balasan ke Blogombal Batalkan balasan